Masjid dan Jalan Pulang Menuju Kemandirian Umat

Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger Templates

Iklan

Masjid dan Jalan Pulang Menuju Kemandirian Umat

Sabtu, Juni 27, 2026 | 20:28 WIB 0 Views Last Updated 2026-06-27T13:28:13Z

Oleh: Dr. Suhendar, S.E., M.S.Ak., Akt., ChFA. (Akademisi FEBI UIN Raden Intan Lampung)

Di negeri yang memiliki lebih dari 800 ribu masjid dan musala, seharusnya tidak ada seorang pun yang merasa berjuang sendirian menghadapi kehidupan. Namun kenyataannya, masih banyak kepala keluarga yang pulang dari salat berjamaah dengan hati yang berat.

Mereka khusyuk berdoa memohon kelapangan rezeki, tetapi sesampainya di rumah masih harus memikirkan biaya sekolah anak, cicilan usaha, kebutuhan dapur, hingga pekerjaan yang belum juga didapatkan.

Fenomena ini mengajarkan satu hal penting. Persoalan ekonomi tidak selalu lahir karena masyarakat malas bekerja. Banyak orang telah bekerja keras sejak matahari terbit hingga larut malam, tetapi hasil yang diperoleh belum mampu memberikan kehidupan yang layak.

Karena itu, membangun kemandirian umat tidak cukup hanya menyerukan semangat bekerja. Yang lebih penting adalah membangun ekosistem yang membuat setiap orang memiliki kesempatan untuk bertumbuh. Di sinilah saya melihat peran masjid perlu dimaknai kembali.

Selama ini, sebagian besar masyarakat mengenal masjid sebagai tempat ibadah. Pemahaman tersebut tentu benar. Namun sejarah Islam menunjukkan bahwa fungsi masjid jauh melampaui itu. Pada masa Rasulullah SAW, masjid menjadi ruang tempat ilmu berkembang, persoalan masyarakat dimusyawarahkan, solidaritas sosial dibangun, dan aktivitas ekonomi diarahkan agar berjalan secara adil. Dengan kata lain, masjid tidak hanya mendekatkan manusia kepada Allah, tetapi juga mendekatkan solusi kepada manusia.

Sayangnya, fungsi besar tersebut belum sepenuhnya menjadi kesadaran bersama.
Kita sering berlomba membangun masjid yang megah, tetapi belum sungguh-sungguh memikirkan bagaimana masjid dapat melahirkan masyarakat yang mandiri.

Kita merasa bangga ketika kubah berdiri menjulang, tetapi belum tentu mengetahui apakah ada jamaah yang kesulitan membayar biaya berobat atau terpaksa menutup usahanya karena kekurangan modal.

Padahal, ukuran keberhasilan sebuah masjid tidak hanya terlihat dari indahnya bangunan, melainkan dari besarnya manfaat yang dirasakan masyarakat di sekitarnya. 

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin Indonesia masih mencapai puluhan juta jiwa. Sementara itu, Badan Amil Zakat Nasional berkali-kali menyampaikan bahwa potensi zakat nasional mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun, tetapi realisasi penghimpunannya masih jauh dari potensi tersebut. 

Dua fakta ini menunjukkan bahwa bangsa ini sebenarnya memiliki sumber daya sosial yang besar, tetapi belum sepenuhnya terhubung dengan kebutuhan masyarakat.


Sebagai akademisi Akuntansi Syariah, saya memandang bahwa persoalan tersebut bukan hanya tentang besarnya dana yang dimiliki, melainkan tentang bagaimana dana itu dikelola. Dalam Islam, amanah selalu berjalan beriringan dengan akuntabilitas. 

Harta tidak boleh berhenti sebagai angka dalam laporan keuangan, tetapi harus berubah menjadi manfaat yang nyata. Di sinilah Akuntansi Syariah memiliki peran strategis.

Selama ini sebagian orang menganggap akuntansi hanya berbicara mengenai debit, kredit, laporan laba rugi, atau neraca. Padahal hakikat Akuntansi Syariah jauh lebih luas. Akuntansi Syariah mengajarkan bahwa setiap keputusan ekonomi memiliki dimensi moral.

Setiap rupiah yang diterima harus dipastikan berasal dari cara yang halal. Setiap rupiah yang dibelanjakan harus memberikan kemaslahatan. Dan setiap rupiah yang dikelola akan dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada masyarakat, tetapi juga di hadapan Allah SWT.

Karena itu, saya meyakini bahwa pengelolaan keuangan masjid harus memasuki babak baru. Transparansi tetap penting, tetapi transparansi saja belum cukup. Dana umat harus diarahkan menjadi instrumen pemberdayaan. Infak, sedekah, zakat, dan wakaf dapat menjadi pengungkit lahirnya usaha mikro, pelatihan keterampilan, inkubator bisnis berbasis masjid, hingga pendampingan bagi keluarga yang sedang berjuang membangun usaha. Memberi bantuan kepada orang lapar memang mulia.

Namun membantu seseorang agar mampu menghidupi keluarganya secara mandiri adalah kemuliaan yang manfaatnya dapat berlangsung jauh lebih lama. Saya membayangkan setiap masjid memiliki satu kelompok usaha binaan.

Ada jamaah yang ahli berdagang membimbing pedagang kecil. Ada dosen mengajarkan pencatatan keuangan sederhana. Ada pegawai bank syariah yang memberikan edukasi mengenai pembiayaan yang sesuai syariat. Ada mahasiswa yang membantu pemasaran digital. Semua dilakukan tanpa membedakan status sosial karena di dalam masjid semua berdiri pada saf yang sama.

Bila gerakan seperti ini tumbuh, masjid tidak hanya menjadi tempat berkumpul untuk beribadah, tetapi juga menjadi tempat lahirnya harapan. Lebih dari itu, kita juga perlu mengubah cara memandang rezeki. Di era media sosial, keberhasilan sering kali diukur dari apa yang tampak. Rumah yang besar, kendaraan yang mahal, atau gaya hidup yang mewah sering dianggap sebagai tanda keberhasilan. Padahal Islam mengajarkan ukuran yang berbeda. Rezeki bukan sekadar jumlah. Rezeki adalah ketenangan. Rezeki adalah kesehatan. Rezeki adalah keluarga yang saling menguatkan.

Rezeki adalah usaha yang dijauhkan dari kecurangan. Rezeki adalah hati yang tetap bersyukur ketika memperoleh sedikit dan tetap rendah hati ketika memperoleh banyak.

Dalam perspektif syariah, keberkahan lebih tinggi nilainya daripada sekadar kelimpahan materi. Sebab keberkahan membuat sesuatu yang terbatas mampu menghadirkan manfaat yang luas. Sebaliknya, harta yang melimpah tanpa keberkahan sering kali justru menghadirkan kegelisahan yang tidak berkesudahan.

Indonesia memiliki modal besar untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Menurut data Kementerian Agama Republik Indonesia, jumlah masjid dan musala tersebar hingga pelosok negeri. Jaringan sosial sebesar ini merupakan kekuatan yang tidak dimiliki banyak negara. Jika setiap masjid mampu melahirkan satu saja keluarga yang mandiri setiap tahun, dalam satu dekade dampaknya akan menjadi gerakan sosial yang luar biasa.

Karena itu, saya percaya kebangkitan ekonomi umat tidak selalu harus dimulai dari kebijakan yang rumit atau investasi yang besar. Kadang-kadang perubahan lahir dari langkah yang sederhana. Pengurus masjid mulai mengenal kondisi jamaahnya. Jamaah yang memiliki kelebihan membantu yang sedang berusaha bangkit. Akademisi membawa ilmunya keluar dari ruang kuliah. Pemerintah memperkuat kolaborasi. Lembaga keuangan syariah membuka akses yang lebih luas. Sedikit demi sedikit, lingkaran kebaikan itu akan membesar.

Pada akhirnya, kemuliaan sebuah masjid tidak hanya diukur dari seberapa sering pengeras suaranya mengumandangkan azan, tetapi juga dari seberapa banyak air mata yang berhasil dihapus karena kepedulian orang-orang di dalamnya. Sebab orang yang datang ke masjid sesungguhnya tidak hanya membawa sajadah. Mereka juga membawa harapan. Harapan agar keluarganya hidup lebih baik. Harapan agar usahanya bertahan.

Harapan agar anak-anaknya memperoleh masa depan yang lebih cerah. Dan alangkah indahnya apabila harapan-harapan itu tidak berhenti sebagai doa yang dipanjatkan ke langit, tetapi juga menemukan jalannya melalui tangan-tangan yang saling menguatkan di bumi.

Karena sesungguhnya, kemandirian umat bukan dimulai ketika kita memiliki kekayaan yang besar, melainkan ketika kita menyadari bahwa rezeki yang Allah titipkan kepada kita selalu mengandung hak orang lain yang harus diberdayakan dengan penuh amanah.(*) 
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Masjid dan Jalan Pulang Menuju Kemandirian Umat

Trending Now

Iklan

iklan