Lampung -
Oleh: Riki Erta
Wakil Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) Provinsi Lampung
Pohon-pohon tua di kampus Universitas Lampung (Unila) telah menjadi saksi bisu perjalanan ribuan ilmuwan. Di bawah naungannya, para guru besar menabur dedikasi puluhan tahun. Melewati malam-malam panjang dalam riset, menguji ribuan tesis, dan melahirkan karya ilmiah demi satu tujuan luhur, yaitu menjaga martabat keilmuan.
Namun di lorong-lorong panggung Pemilihan Rektor (Pilrek) Unila yang sakral itu, keagungan akademik mendadak pudar dalam sekejap. Sebuah rekaman video memperlihatkan suasana rombongan pendukung calon rektor Dr. Budiyono yang berjalan diiringi sorak-sorai. Di tengah euforia tersebut, sebuah kalimat sumbang yang diucapkan secara langsung di ruang publik justru menghantam nalar akademis.
Langkah kaki riuh terdengar mengiringi pergerakan rombongan calon rektor Dr. Budiyono. Di tengah kepungan pendukung dan kamera yang merekam setiap jengkal euforia, meluncurlah kalimat bernada olok-olok yang begitu menohok dari Budi Jaya Idris, Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Lampung. "Profesor kalah dengan doktor," ujarnya sambil tertawa girang.
Kalimat itu diteriakkan secara langsung di tengah kerumunan dengan nada mengolok-olok, diiringi gelak tawa orang-orang di sekitarnya. Sosok yang melontarkan teriakan tersebut bukanlah orang sembarangan. Dia adalah seorang pejabat publik yang seharusnya menjadi teladan dalam etika komunikasi dan penjaga netralitas.
Bagi siapapun yang memahami kesucian panggung akademik, teriakan langsung tersebut bukan sekadar sorak-sorai tim sukses biasa. Ia adalah hantaman keras bagi martabat para profesor.
Gelar tertinggi akademik yang dicapai melalui peluh, integritas, dan pengabdian seumur hidup, kini justru dijadikan bahan ejekan di jalanan kampus.
Ungkapan bijak menyatakan, "Kualitas seorang calon pemimpin dapat dilihat dari siapa yang berdiri di sekelilingnya dan bagaimana cara mereka memperjuangkannya."
Ketika seorang calon rektor dikelilingi oleh pendukung yang dengan ringan menanggalkan etika publik, bahkan meneriakkan olok-olok antar gelar akademik secara terbuka. Maka publik pantas bertanya, cermin kepemimpinan seperti apa yang sedang disodorkan ke hadapan kampus tercinta ini?
Membiarkan nilai-nilai kehormatan akademik diinjak-injak demi merayakan kemenangan sementara adalah sinyal bahaya. Pemimpin kampus bukan hanya sosok yang mengejar takhta suara, melainkan penjaga utama nilai-nilai moral, kesantunan, dan rasa hormat kepada para senior serta pendidik bangsa.
Kini, bola keputusan berada di tangan para Anggota Senat Unila yang mayoritas di antaranya adalah para Profesor dan Guru Besar tercinta. Insiden yang terekam jelas dalam video tersebut bukan lagi sekadar persaingan angka atau perebutan kursi rektor. Ini adalah ujian nurani. Akankah para guru besar yang bijaksana tinggal diam melihat mahkota kehormatan keilmuan mereka dilucuti dan dijadikan olok-olok oleh tim sukses calon pemimpin?
Suara yang dimiliki para Senat di bilik pemilihan kelak bukan hanya untuk menentukan siapa rektor berikutnya. Melainkan sebuah pertaruhan moral untuk menegaskan kembali bahwa Unila adalah benteng moral dan akademis yang tidak boleh ditundukkan oleh pragmatisme yang bisu akan etika.





