Lampung – "Saya tidak punya dasar pengawasan." Pengakuan jujur itu meluncur dari Bayana saat mengikuti uji kompetensi di hadapan Dirjen Tomsi Tohir. Namun, kejujuran itulah yang justru menjadi fondasi transformasi besar di Inspektorat Lampung. Kini, di awal 2026, wajah Inspektorat berubah: dari institusi yang ditakuti menjadi mitra strategis yang disegani.
Sejak awal tahun 2025, Bayana membawa filosofi pengawasan yang berbeda. Jika dulu Inspektorat sering dianggap sebagai "pencari kesalahan", di bawah kepemimpinannya, paradigma itu bergeser menjadi assurance (penjaminan).
"Inspektur itu penentu baik-buruknya pemerintahan daerah. Kami harus menjadi mitra, mulai dari tahap perencanaan hingga pengambilan keputusan," ujar Bayana yang sebelumnya lama bergelut di dunia diklat (Ciawi).
Baginya, kualifikasi internal adalah harga mati. Sebelum meluruskan OPD lain, "sapu" yang digunakan harus bersih terlebih dahulu. Integritas APIP diperketat: No Korupsi, No Pungli.
Digitalisasi dan Rekor 10 Besar Nasional
Loncatan besar Bayana ditandai dengan peluncuran aplikasi Si AWAS. Inovasi ini bukan sekadar pajangan digital, melainkan senjata bagi Inspektur untuk memantau Anggaran yang kini bisa akses langsung ke anggaran seluruh OPD.
InsPendampingan Real-Time: Memberikan masukan sebelum terjadi kesalahan fatal.
Transparansi: Menutup celah "main mata" dalam pengelolaan keuangan.
Hasilnya? KPK memberikan Penilaian Hijau, menempatkan Lampung dalam 10 besar nasional dalam koordinasi pencegahan korupsi. Capaian ini diperkuat dengan apresiasi BPKP atas progres Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan (TLHP) yang menyentuh angka 86 persen.
Irbansus: Tajam Mengawasi, Tegas Menindak
Meski mengedepankan pencegahan, Bayana tetap memiliki "taring" melalui Inspektur Pembantu Khusus (Irbansus). Data bicara: sepanjang 2025, sebanyak 29 PNS dan 2 P3K telah diproses dan diberikan rekomendasi sanksi sesuai pelanggaran disiplin."Daftar pejabat yang masuk ke Lampung, jejaknya ada di kami, rekomendasi juga harus dari inspektorat" tegasnya
Menanggapi isu jual beli jabatan. Bayana memastikan setiap isu yang beredar—termasuk keterlibatan orang luar—akan dikejar kebenarannya. Baginya, data dan bukti adalah panglima.
"Pengabdian Terakhir" Melihat masa depan menuju 2026, Bayana melihat perannya bukan sekadar jabatan, melainkan pengabdian terakhir sebagai ASN. Mengambil inspirasi dari budaya disiplin Jepang, ia ingin meninggalkan warisan (legacy) berupa pemerintahan yang clear and clean.
"Tugas saya adalah menjaga Gubernur dan menjaga Pemerintah Provinsi. Caranya? Dengan memastikan semua perangkat bekerja sesuai visi-misi tanpa melanggar aturan."




